Rabu, 18 Juni 2014

Kopi dan Kehidupan Saya


Minum kopi merupakan kegemaran bagi banyak orang, terutama di kota-kota besar seperti Bandung, terlebih kini banyak coffeeshop yang tidak hanya menawarkan sensasi minum kopi yang nikmat, namun juga menyediakan tempat yang cocok untuk meeting, diskusi, dan rapat. Bahkan di kamar kos, secangkir kopi mampu menghangatkan suasan belajar dan saat mengerjakan tugas kuliah.

Menurut catatan Wikipedia, kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahan Belanda di Indonesia. Saat itu Belanda membuat perkebunan komersial pada koloninya di pulau Jawa, Sumatera dan beberapa wilayah Indonesia Bagian Timur, dan hingga sampai sekarang perkebunan-perkebunan tersebut masih ada.

Bagi saya, kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan yang sulit untuk dipisahkan. Ini bukan tanpa alasan atau lebay. Kecintaan akan kopi bermula sejak kecil, kurang lebih di usia 3 tahunan. Awalnya suka meminta sedikit kopi hitam dari
gelas Ayah atau Ibu. Karena saya menyukai dan terus meminta ketika mereka menyeduhnya, akhirnya kedua orang tua saya ini membelikan kopi cair. Kopi cair ini adalah kopi instan dimana hanya membutuhkan 1-2 sendok teh untuk satu gelas. Alasan mereka memberikan ini karena usia saya yang masih kecil dan terlalu berbahaya jika keseringan minum kopi hitam.

Berawal dari itulah, maka efeknya sampai sekarang. Bahkan saya sudah bisa dikatakan kecanduan dengan minuman yang satu ini. Rasanya hidup ini hambar jika tidak meminum kopi. Apalagi jika momennya dibilang pas, ditambah kopi maka akan menjadi momen sempurna. Hhe.

Ada satu hal yang unik dari kecintaan saya kepada kopi ini. Saya pernah membawa kopi kecintaan saya yaitu kopi hitam ke dalam kelas saat masih bersekolah dulu, dan saya meminumnya saat guru menerangkan pelajaran. Dalam aturan sekolah saya dulu, siswa dilarang minum atau makan didalam kelas, kecuali guru-guru tertentu yang membolehkan itupun hanya air putih dan permen. Ada sih teguran, tapi hal itu sulit di taati. Tanpa efek jera, kebiasaan itupun terus berlanjut sampai diikuti oleh teman-teman yang lain. Selain itu, saat sakitpun mengkonsumsi kopi adalah keharusan. Bahkan pacar saya dulu pernah melarang minum kopi saat sakit dan mengurangi konsumsi kopi, tapi itu tidak dihiraukan bahkan sempat saya akan memutuskannya.

Kopi hitam itu menurut saya adalah filosofi hidup. Hitam kopi dan rasa pahitnya adalah simbol dari ujian hidup, kesedihan, kepedihan, kerja keras, perjuangan, ideologi, keteguhan, dan sebagainya. Manisnya gula adalah simbol dari doa, senyum, manisnya hidup, keindahan, dan sebagainya. Dan apabila dicampurkan akan menimbulkan kenikmatan, seperti halnya hidup ini antara perjuangan dan doa yang terus dilakukan akan mendapatkan hasil yang optimal.

Di universitas pun semakin menjadi. Tiap kuliah pasti uang jajan sebagian besar habis untuk kopi. Membawa kopi ke dalam kelas pun saya tularkan kembali kepada rekan-rekan di kelas. Sama seperti waktu sekolah, dosen pun tak kuasa melarangnya. Setelah kuliah beres, nongkrong pasti di warung kopi, atau di lantai depan fakultas sambil minum kopi. Apalagi saat mengerjakan tugas, tanpa kopi sepertinya tugas tidak akan beres.

Kopi pun bisa dijadikan media pembuka untuk berkomunikasi atau peningkat keakraban dengan sesama, kawan. Gak percaya? Cobalah kita nongkrong, kemudian membawa kopi, ketika ada temen lewat atau temennya temen kita, lewat kopi bisa menjadi alat pembuka percakapan selain rokok. Setelah terbuka, Insyaallah, komunikasi tidak akan kaku dan mendekatkan keakraban. 

Itu cerita saya tentang kopi. Bagaimana dengan Anda ?

1 komentar:

  1. Play at the Best Casino Site for Real Money
    Our expert picks and หารายได้เสริม recommendations give 바카라 사이트 you the most honest and unbiased opinions on online casino sites. We've tested hundreds of slots, table games, video poker 카지노 and more

    BalasHapus